Gairah Seks Muncul Saat Bungkus Orang dengan Kain - Beritabali.com

Seksologi

Gairah Seks Muncul Saat Bungkus Orang dengan Kain

Minggu, 02 Agustus 2020 | 15:00 WITA

bbn/suara.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Tanya: “Dok, terkejut juga saya waktu semalam adik saya bilang bahwa dia juga pernah dihubungi oleh si Gilang Bungkus yang viral karena meminta orang untuk membungkus dirinya. Itu namanya fetish ya, Dok. Itu sepertinya sangat meresahkan jika tidak ditindak lanjuti. Bisa dijelaskan tentang ini, Dok ?” (Reka, Surabaya)

Pilihan Redaksi

  • Thermo Gun Bikin Rusak Otak dan Reproduksi?
  • Viral Berenang Bisa Bikin Hamil, Ini Penjelasan Pakar Seksologi
  • Heboh Kasus Guru "Threesome" di Buleleng, Ini Penjelasan Seksolog Bali
  • Oknum Bidan Masukkan Mentimun ke Vagina, Ini Penjelasan Seksolog Bali
  • Konsultasi Seksologi Dr Oka Negara Hadir di Beritabali.com
  • Jawab: Kasus ini sesungguhnya sangat unik. Apalagi kemudian dikaitkan dengan perilaku yang disebut dengan fetishism, atau fetishisme. Uniknya adalah karena berkaitan dengan pembungkusan tubuh dengan menggunakan kain menutupi seluruh tubuh, sesuatu yang baru terdengar dan terjadi, atau paling tidak memang baru dilaporkan dan viral. Sempat disebut juga penggunaan lakban juga dalam aktivitas ini.    Buat yang baru mendengar, kasus yang ditanyakan ini adalah dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki yang mengaku seorang mahasiswa yang sedang melakukan sebuah riset ilmiah. Pada faktanya, memang yang bersangkutan adalah mahasiswa di sebuah universitas yang disampaikan, tetapi tentang riset ilmiahnya rupanya hanyalah kedok untuk merayu orang lain untuk mau mengikuti keinginannya. 
    Semua kontak dilakukan lewat media sosial. Kasus ini menjadi menarik perhatian karena dinilai memiliki sisi fetishisme lewat membungkus orang lain dengan kain batik. Sebelumnya, tubuh diminta dililit dulu menggunakan lakban, termasuk tangan, kaki, mulut, dan mata. Ini menjadi viral dan trending di twitter karena salah satu orang yang pernah mengikuti keinginan ini menceritakan pengalamannya dengan detail dalam sebuah thread di twitter dan diikuti oleh beberapa pengakuan lain yang serupa dari permintaan laki-laki yang sama.
    Fetish berbeda dengan feishisme. Kalau fetish adalah obyeknya, berupa benda mati nongenital atau bukan berkaitan dengan bentuk kelamin, sedangkan fetishisme adalah penggunaan obyek atau benda-benda yang tidak hidup sebagai cara untuk membuat seseorang terangsang secara seksual. 
     
    Penyebab seseorang melakukan fetishisme sangat mungkin bisa terjadi karena ada riwayat mengalami pelecehan seksual atau mengalami bullying secara seksual di masa anak. Ini banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Saat dewasa, pada laki-laki yang mengalami fetishisme terjadi kebingungan atau keraguan akan identitas maskulinitasnya, atau keraguan akan terjadi penolakan oleh orang dewasa lain, sehingga akhirnya lebih memilih menggunakan benda-benda tertentu sebagai obyek seksualnya. Bisa juga karena saat masih anak, memang melihat langsung perilaku fetishisme sebelumnya dan menjadikannya referensi saat dewasa.
     Fetishisme belum menjadi masalah sepanjang tidak menimbulkan distres dan tidak menimbulkan gangguan fungsi pada yang mengalaminya, seperti merasa terganggu atau sangat menderita dengan kondinsinya, sehingga mengganggu kualitas hidup dan aktivitas hariannya. Seseorang yang sudah sampai mengalami gangguan ini selalu memiliki fantasi, dorongan seksual sampai perilaku seksual yang terjadi terus menerus serta berulang. 
    Pada beberapa kasus malah sampai merugikan orang lain, memaksa orang lain, hingga terjadi pencurian benda-benda tertentu seperti sepatu orang lain, stocking orang lain, hingga pakaian dalam orang lain. 
    Jika ini sudah mengganggu, apakah bisa disembuhkan? Jika memang sudah mengakibatkan keluhan yang sangat mengganggu, apalagi hingga terjadi kejadian kriminalitas, maka memerlukan bantuan seorang psikiater untuk modalitas psikoterapi dan juga kemungkinan terapi obat-obatan psikiatri. Seringkali dibutuhkan juga terapi hormon untuk membantu penyembuhan. 
    Nah itu tentang fetish dan fetishisme yang ditanyakan. Tetapi dalam kasus yang viral ini apakah memang benar pelakunya adalah seorang pelaku fetishisme, ini sangat perlu ditelusuri kembali. Perlu dilakukan pemeriksaan yang detail, termasuk melibatkan keterangan dari orang-orang yang selama ini sudah dirayu atau bahkan mungkin dipaksa untuk melakukan adegan pembungkusan diri tersebut. Sehingga akan didapatkan data yang lebih banyak dan rinci untuk menegakkan diagnosis dari kasus ini. 
    Apakah memang dari aktivitas bungkus-membungkus ini dipicu oleh fantasi dan dorongan seksual? Apakah selama melihat adegan bungkus-membungkus si pelaku menikmatinya dan terpuaskan secara seksual? Atau sesungguhnya hanya upaya melampiaskan emosi atau kekesalan sebagai bentuk balas dendam dari kejadian trauma masa lalu? Masih banyak hal yang perlu dilengkapi. 
    Demikian juga apakah ini murni fetishisme, juga perlu ditelusuri kembali, apakah ketertarikan terletak pada bendanya, seperti yang beredar adalah kain batik, atau kain jarik, atau malah pada sosok orangnya? Karena jika ketertarikan tetap ada pada sosok orangnya, berarti ini bukan fetishisme seperti yang sudah kadung dilabeli banyak orang dan media. 
    Tetapi memang sisi intimidasi, ancaman, ketegangan dan keresahan yang ditimbulkan oleh pelaku kepada orang lain yang diminta untuk membungkus diri, tentunya memiliki nilai dan konsekuensi hukum yang bisa dikasus pidanakan.
    Yang kemudian bisa diambil hikmahnya dari kejadian ini kemudian adalah bagaimana kemudian orang dewasa, orang tua, dan masyarakat bisa membentuk anak melalui masa remajanya sehingga kemudian menjadi dewasa yang sehat. Baik itu dari sisi pendidikan, soft skillnya juga, termasuk pendidikan seksual yang ramah sejak masih anak. 
    Senantiasa bersikap melindungi anak dari paparan kekerasan fisik, mental, maupun seksual. Serta satu lagi, kita semua kembali selalu mengingatkan dan mengajarkan anak untuk dapat menggunakan gadget, internet, media sosial dengan bertanggung jawab. 
    dr. Oka Negara,S.Ked, M.Biomed, FIAS

    Penulis : Dokter Oka Negara

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Fetish Viral Pelecehan Seksual Dorongan Seksual


    The Best Cargo Company in Bali - ADHI DARMA CARGO

    ADHI DARMA CARGO is an International Freight Forwarder  that established in 1995. Adhi Darma Cargo specialized in International Air Freight and Sea Freight Forwarder and Logistics Transportation Solutions with it’s office and warehouse located  in Ubud - Bali, Indonesia. Contact us Today : 082339597441



    Seksologi Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Seksologi

    Berita Bali TV